Kumpulan Kisah Abu Nawas

Minggu, 28 November 2010

Kisah Sunan Drajat

Diantara para wali, mungkin Sunan
Drajat yang punya nama paling banyak.
Semasa muda ia dikenal sebagai Raden
Qasim, Qosim, atawa Kasim. Masih
banyak nama lain yang disandangnya di
berbagai naskah kuno. Misalnya Sunan
Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan
Muryapada, Raden Imam, Maulana
Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran
Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan
Masaikh Munat.
Dia adalah putra Sunan Ampel dari
perkawinan dengan Nyi Ageng Manila, alias
Dewi Condrowati. Empat putra Sunan
Ampel lainnya adalah Sunan Bonang, Siti
Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi
Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah,
dan seorang putri yang disunting Sunan
Kalijaga. Akan halnya Sunan Drajat sendiri,
tak banyak naskah yang mengungkapkan
jejaknya.
Ada diceritakan, Raden Qasim
menghabiskan masa kanak dan remajanya
di kampung halamannya di Ampeldenta,
Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan
ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah
di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik
ini merangkumkan sebuah cerita, yang
kelak berkembang menjadi legenda.
Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari
Surabaya, dengan menumpang biduk
nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya
terseret badai, dan pecah dihantam ombak
di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik.
Raden Qasim selamat dengan berpegangan
pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong
ikan cucut dan ikan talang --ada juga yang
menyebut ikan cakalang.
Dengan menunggang kedua ikan itu, Raden
Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat
yang kemudian dikenal sebagai Kampung
Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa
ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di
sana, Raden Qasim disambut baik oleh
tetua kampung bernama Mbah Mayang
Madu dan Mbah Banjar.
Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan
oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga
terdampar di sana beberapa tahun
sebelumnya. Raden Qasim kemudian
menetap di Jelak, dan menikah dengan
Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di
Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah
surau, dan akhirnya menjadi pesantren
tempat mengaji ratusan penduduk.
Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan
terpencil, lambat laun berkembang menjadi
kampung besar yang ramai. Namanya
berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga
tahun, Raden Qasim pindah ke selatan,
sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat
yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir
pada musim hujan. Tempat itu dinamai
Desa Drajat.
Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil
Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih
menganggap tempat itu belum strategis
sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas
diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa
Lamongan kala itu, untuk membuka lahan
baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan
berupa hutan belantara itu dikenal
penduduk sebagai daerah angker.
Menurut sahibul kisah, banyak makhluk
halus yang marah akibat pembukaan lahan
itu. Mereka meneror penduduk pada malam
hari, dan menyebarkan penyakit. Namun,
berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu
mengatasi. Setelah pembukaan lahan
rampung, Sunan Drajat bersama para
pengikutnya membangun permukiman
baru, seluas sekitar sembilan hektare.
Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi,
Sunan Drajat menempati sisi perbukitan
selatan, yang kini menjadi kompleks
pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur.
Sunan mendirikan masjid agak jauh di
barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang
menjadi tempat berdakwah menyampaikan
ajaran Islam kepada penduduk.
Sunan menghabiskan sisa hidupnya di
Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522.
Di tempat itu kini dibangun sebuah
museum tempat menyimpan barang-
barang peninggalan Sunan Drajat --
termasuk dayung perahu yang dulu pernah
menyelamatkannya. Sedangkan lahan
bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan
kosong, dan dikeramatkan.
Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan
kedermawanannya. Ia menurunkan kepada
para pengikutnya kaidah tak saling
menyakiti, baik melalui perkataan maupun
perbuatan. ''Bapang den simpangi, ana
catur mungkur,'' demikian petuahnya.
Maksudnya: jangan mendengarkan
pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang
lain, apalagi melakukan perbuatan itu.
Sunan memperkenalkan Islam melalui
konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-
cara bijak, tanpa memaksa. Dalam
menyampaikan ajarannya, Sunan
menempuh lima cara. Pertama, lewat
pengajian secara langsung di masjid atau
langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan
pendidikan di pesantren. Selanjutnya,
memberi fatwa atau petuah dalam
menyelesaikan suatu masalah.
Cara keempat, melalui kesenian tradisional.
Sunan Drajat kerap berdakwah lewat
tembang pangkur dengan iringan gending.
Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran
agama melalui ritual adat tradisional,
sepanjang tidak bertentangan dengan
ajaran Islam.
Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah:
Paring teken marang kang kalunyon lan
wuta; paring pangan marang kang kaliren;
paring sandang marang kang kawudan;
paring payung kang kodanan. Artinya:
berikan tongkat kepada orang buta;
berikan makan kepada yang kelaparan;
berikan pakaian kepada yang telanjang;
dan berikan payung kepada yang
kehujanan.
Sunan Drajat sangat memperhatikan
masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari
perkampungan pada malam hari.
Penduduk merasa aman dan terlindungi
dari gangguan makhluk halus yang, konon,
merajalela selama dan setelah pembukaan
hutan. Usai salat asar, Sunan juga
berkeliling kampung sambil berzikir,
mengingatkan penduduk untuk
melaksanakan salat magrib.
''Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,''
katanya dengan nada membujuk. Ia selalu
menelateni warga yang sakit, dengan
mengobatinya menggunakan ramuan
tradisional, dan doa. Sebagaimana para
wali yang lain, Sunan Drajat terkenal
dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di
kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan
Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam
suatu perjalanan.
Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya
mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika
Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari
sembilan lubang bekas umbi itu memancar
air bening --yang kemudian menjadi sumur
abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan
Drajat disebut-sebut menikahi tiga
perempuan. Setelah menikah dengan
Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat,
Sunan mengawini Retnayu Condrosekar,
putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.
Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada
1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri
pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah,
putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum
sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat
dikirim ayahnya berguru mengaji kepada
Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif
Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.
Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan
hingga kini, memang ada tradisi ''saling
memuridkan''. Dalam Babad Tjerbon
diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah,
Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun
biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran
Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga
yang menyebutnya Syekh Syarifuddin.
Bekas padepokan Pangeran Drajat kini
menjadi kompleks perkuburan, lengkap
dengan cungkup makam petilasan, terletak
di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di
sana dibangun sebuah masjid besar yang
diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu
Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan
bahwa dari pernikahannya dengan Dewi
Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.
Anak tertua bernama Pangeran Rekyana,
atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran
Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada
pula kisah yang menyebutkan bahwa
Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai
Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat
putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa
meninggalkan jejak yang meyakinkan.
Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di
Jelak setelah berkeluarga atau belum.
Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para
Wali mencatat: ''Duk samana anglaksanani,
mangkat sakulawarga....'' Sewaktu
diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim
konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika
benar, di mana keluarganya ketika perahu
nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih
mengais-ngais naskah kuno untuk
menjawabnya.
Beliau wafat dan dimakamkan di desa
Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten
Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari
makam beliau telah dibangun Museum
yang menyimpan beberapa peninggalan di
jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan
beliau di bidang kesenian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar